PERGERAKAN MAHASISWA TAK KENAL HENTI

PERGERAKAN MAHASISWA TAK KENAL HENTI

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Salam Cinta, Salam Perjuangan….
HIDUP MAHASISWA..
Hari ini, Rabu 28 Maret 2012 merupakan hari yang berkesan bagiku dimana aku dapat mengikuti aksi di gedung MPR-DPR RI bersama dengan rekan-rekan mahasiswa dari berbagai daerah antara lain IPB, UNJ, UPI, UNS, UNPAD, universitas Yarsi, Universitas Esa Unggul, Universitas Sriwijaya dan lainnya dalam satu forum BEM SI untuk menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini kami lakukan sebagai bentuk kontribusi kami kepada Rakyat Indonesia agar kebijakan kenaikan harga BMM tidak dilakukan oleh pemerintah. Kegiatan aksi dilaksanakan sekitar pukul 13.00 WIB dengan jumlah mahasiswa yang hadir sebanyak kurang lebih 250 orang. Pada aksi kali ini, polisi sudah bersiap siaga sejak pagi hari di sekitar gedung MPR-DPR RI dengan jumlah yang cukup banyak tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami rekan-rekan mahasiswa BEM SI untuk melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM. Koordinator aksi memberikan arahan kepada peserta aksi untuk membentuk border dengan rapi dan kokoh untuk mencegah penyusup yang ingin masuk ke dalam barisan peserta aksi.
Mula-mula aksi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mahasiswa yang hadir pada aksi hari ini menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat. Kegiatan aksi dimulai dengan orasi ilmiah yang disampaikan oleh perwakilan koordinator BEM dari setiap Universitas. Kemudian dilanjutkan dengan teatrikal penolakan kebijakan presiden SBY dengan menurunkan atribut presiden SBY dengan mengganti atribut BBM yang dituliskan pada sebuah derigen minyak. Rekan-rekan mahasiswa yang hadir pada kesempatan hari ini dengan semangat untuk menyuarakan aspirasi yang tentunya diharapkan kebijakan yang diambil pemeritah berpihak kepada rakyat Indonesia. Para mahasiswa menyanyikan lagu Totalitas Perjuangan yang merupakan lagu perjuangan mahasiswa dari generasi ke generasi untuk selalu mengedepankan kepentingan rakyat Indonesia dalam setiap pergerakan mahasiswa yang dilakukan. Selain menyanyikan lagu Totalitas perjuangan, kami menyanyikan lagu kebanggaan BEM SI dan yel-yel yang kami miliki. Kami sebagai pemuda-pemudi bangsa Indonesia dari kalangan mahasiswa dengan berbagai almamater yang berbeda, bersatu padu untuk menyampaikan aspirasi visi bersama BEM SI pada aksi kali ini untuk menolak kenaikan harga BBM.
Adapun kegiatan aksi lainnya yaitu pengibaran bendera Indonesia dan bendera BEM berbagai universitas yang tergabung dalam aliansi BEM SI di pagar gedung wakil rakyat alias MPR-DPR RI setinggi kurang lebih 4 meter yang dilakukan oleh perwakilan mahasiswa dari setiap universitas. Pada waktu menjelang pukul 14.30 WIB, beberapa mahasiswa dari berbagai universitas mulai berdatangan ke depan gedung MPR-DPR RI untuk ikut serta dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM pada hari ini. Kegiatan aksi mulai memuncak dimana mahasiswa dan polisi mulai terjadi aksi dorong. Akan tetapi, kegiatan aksi tetap berjalan dengan baik tanpa terjadinya bentrokan mahasiswa dengan aparat kepolisian.

Tidak terasa kegiatan aksi sudah menjelang sore hari sekitar pukul 16.30 WIB. Hal ini menandakan kegiatan aksi penolakan kenaikan harga BBM berakhir. Kemudian mahasiswa berkumpul dengan rekan-rekan mahasiswa satu univeritas untuk mempersiapkan pulang ke daerahnya masing-masing. Kegiatan aksi selanjutnya akan dilaksanakan tanggal 29-30 Maret 2012 di depan Gedung MPR-DPR RI dengan jumlah peserta aksi yang lebih banyak dari berbagai daerah yang sudah berangkat menuju Jakarta pada hari ini.
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada rekan-rekan mahasiswa yang lainnya, bahwa pada hari ini aku menyaksikan ada salah seorang mahasiswa UNPAD dengan keterbatasan anggota tubuhnya, ia tetap bersemangat untuk melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM pada hari ini. Ia senantiasa mengedepankan kepentingan orang lain dibandingkan dengan kepentingan dirinya. Hal ini terlihat dari raut wajahnya yang senantiasa ceria pada aksi hari ini. Hal ini menandakan bahwa ia ingin berkontribusi yang terbaik dalam menjalankan aksi penolakan kenaikan harga BBM bersama mahasiswa yang lainnya. Bahkan pada saat jeda istirahat pun ia tetap semangat berjalan dengan keterbatasan yang ia miliki menuju masjid Nurul Ajam Kementerian Kehutanan dengan cara melompat menggunakan salah satu kakinya untuk melaksanakan ibadah shalat ashar berjama’ah sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta-Nya.
Apakah kita sebagai mahasiswa tidak peduli dengan kondisi saat ini dimana pemerintah akan menaikkan harga BBM ??? Apakah kita terlalu sibuk dengan kesibukkan pribadi kita masing-masing sehingga kita enggan untuk ikut serta dalam perbaikan kesejahteraan rakyat Indonesia ??? marilah kawan-kawan mahasiswa mulailah untuk peka terhadap di lingkungan sekitar kita demi kesejahteraan masyarakat dan berkontribusilah dengan kemampuan yang terbaik demi Agama, Almamater, Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Kegiatan aksi selanjutnya akan dilaksanakan tanggal 29-30 Maret 2012 di depan Gedung MPR-DPR RI dengan jumlah peserta aksi yang lebih banyak dari berbagai daerah yang sudah berangkat menuju Jakarta pada hari ini.
Wahai pemuda !
Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Iman, Ikhlas, Semangat dan Amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat, kecuali pada diri para pemuda. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.
Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk (Q.S Al-Kahfi 13)
Terima kasih kepada pengurus dan MS LDF FAMM AL-AN’AAM IPB diantaranya Endah Yuniarti, Rayhanah Bey Nasution, dan Adhe Wahyu Septian yang telah mengikuti aksi pada hari ini.
Wassalamu’alaikum. Wr.Wb Penulis : Akhyarudin IPTP 45

PRESS RELEASE KEGIATAN UPGRADING LDF FAMM AL-AN’AAM 2012

Bissmillahirrahmanirrahim….
Alhamdulillah hari Ahad, 11 Maret 2012 telah dilaksanakan kegiatan Upgrading Pengurus LDF FAMM AL-AN’AAM periode 2011-2012 di Curug Nangka, Tamansari, Bogor. Upgrading pada tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Mula-mula panitia dan peserta berkumpul di depan Bank BNI 46 pukul 06.00 WIB. Peserta yang mengikuti upgrading FAA kali ini antara lain Aang, Saeroni, Arifin, Ananta, Mujahid, Rayis, Masitoh, Nahdhi, Diniati, Endah, Uzi, Cira, Mucha, Desca, dan Ishfi. Panitia terdiri dari Dadan, Away, Ka Sodiqin, Akhyar, Fauzia, Novita, Nunik, Rayhanah dan Praitita. Cuaca pada pagi hari terlihat mendung dan sedikit gerimis, tetapi tidak menyurutkan semangat panitia dan peserta untuk tetap melaksanakan upgrading tersebut. Panitia dan peserta berangkat menuju curug nangka pukul 06.30 WIB. Perjalanan yang ditempuh selama satu jam. Alhamdulillah panitia dan peserta tiba di Curug Nangka pukul 07.30 WIB. Kemudian panitia dan peserta melaksanakan ibadah shalat dhuha. Lalu dilanjutkan dengan agenda sarapan selama kurang lebih 30 menit. Cuaca yang dingin mengakibatkan panitia dan peserta bertambah lapar. Panitia dan peserta dengan lahapnya menghabiskan makanan yang telah dibawa. Cuaca di Curug Nangka akhirnya terlihat cerah sehingga panitia dan peserta bersemangat untuk menyelesaikan upgrading hari ini.
Acara Upgrading di buka oleh MC Dadan Suhendar dan dilanjutkan dengan pembacaan taujih Rabbani yang dibacakan oleh Adhe Wahyu Septian. Agenda berikutnya dilakukan streching peserta upgrading yang dipimpin oleh perwakilan peserta yaitu Mujahid kurang lebih selama 15-20 menit sebelum menuju air terjun. Selanjutnya peserta melakukan perjalanan menuju air terjun selama kurang lebih 15-20 menit. Peserta tiba di kawasan air terjun Curug Nangka sekitar pukul 09.30. Acara selanjutnya yaitu pemberian materi yang disampaikan oleh Adhe Wahyu Septian kurang lebih selama 30 menit. Selanjutnya dilakukan pengecekan penugasan hafalan Alqur’an Surat As-Shaff ayat 1-5. Kemudian dilakukan sharing mengenai deskripsi perjalanan hidup peserta dan panitia mulai dari sejak kecil hingga perjuangan masuk kuliah di IPB. Masing-masing peserta mempunyai kisah perjalanan hidup yang berbeda-beda mulai dari sekolah, pergaulan, prestasi, kondisi keluarga, karakter, aktivitas, organisasi dan yang lainnya. Tidak terasa acara sharing yang dilaksanakan sudah menghabiskan waktu satu jam. Semoga dengan adanya sharing perjalanan hidup ini dapat meningkatkan ukhuwah dan kedekatangan sesama pengurus LDF FAMM AL-AN’AAM. Lalu masuk ke acara berikutnya peserta diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya Curug Nangka dan dilakukan foto bersama pengurus FAA 2011-2012. Selanjutnya peserta dan panitia dan peserta bergegas untuk turun dari kawasan air terjun Curug Nangka untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur dan makan siang. Setelah peserta dan panitia melaksanakan Shalat Dzuhur dan makan siang, acara dilanjutkan dengan games yang terdiri dari 4 jenis games. Games pertama pada kelompok ikhwan dan akhwat berupa melewati halang rintang yang telah dipersiapkan oleh panitia dan dilanjutkan dengan kompetisi berupa permainan mengubah posisi plastik yang sedang digunakan dengan ketentuan kaki tidak menyentuh rumput.
Pada permainan pertama kita bisa mengambil hikmah sebagaimana yang terdapat dalam Surat At-Taubah ayat 41. Selain itu, juga kita bisa mengambil hikmah dari games kesatu yaitu perlu adanya pemimpin yang pada suatu organisasi dan mengenal medan dakwah serta kerjasama.
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (Q.S At-Taubah 41).
Pada games kedua berupa kompetisi mengambil slayer yang digunakan oleh team satu dengan team yang lainnya. Adapun bantuan amunisi berupa plastik yang diisi air, jika amunisi tersebut mengenai lawan pada saat berkompetisi maka lawan dinyatakan gugur. Dari games kedua ini bisa kita ambil hikmahnya bahwa ketika berdakwah diperlukan strategi dan berusaha dengan sungguh. Pada games ketiga berupa permainan membentuk barisan yang berbentuk segitiga dimana kedua mata peserta ditutup dengan slayer dan diberikan arahan oleh ketua kelompok. Adapun hikmah yang bisa kita ambil bahwa kita bersikap taat kepada pemimpin dan siap memimpin, membangun komunikasi yang baik sesama pengurus FAA. Pada games ke empat pada kelompok ikhwan, berupa kompetisi mengambil slayer antar kelompok/team. Setiap peserta dalam satu kelompok harus bekerjasama untuk memenangkan kompetisi tersebut. Pada games keempat ini dapat diambil hikmah bahwa kita harus berusaha dengan optimal ketika berdakwah dengan bekerjasama (amal jama’i) sesama pengurus FAMM AL-AN’AAM. Adapun games pada kelompok akhwat berupa menyusun menara yang terbuat dari kardus dengan tulisan ALLAHU AKBAR. Pada awalnya peserta harus mencari potongan-potongan huruf yang ada disekitar lapangan. Peserta mengalami kesulitan ketika ingin menyusun menara dimana peserta mengalami gangguan dari panitia. Tetapi hal ini tidak menyurutkan SEMANGAT peserta untuk menyusun menara tersebut dengan kokoh. Alhamdulillah dengan perjuangan dan motivasi yang tinggi, peserta berhasil menyusun menara tersebut. Pada games keempat ini dapat diambil hikmahnya bahwa kita harus mempunyai visi dan misi yang sama, bekerja sama (amal jama’i) dalam berorganisasi, fokus pada tujuan yang ingin dicapai, dan membuat strategi yang tepat. Peserta diberikan kesempatan untuk bersih-bersih, setelah asyik bermain games lapangan kurang lebih selama 30 menit. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, tanda berakhirnya waktu bersih-bersih. Kemudian peserta dan panitia melaksanakan ibadah sholat Ashar berjamaah. Acara dilanjutkan dengan agenda penutupan upgrading FAA dengan pembacaan doa Rabithoh yang dibacakan oleh MC sebagai tanda berakhirnya acara upgrading FAA.
Ucapan terimakasih banyak kepada panitia antara lain Dadan, Away, Ka Sodiqin, Akhyar, Fauzia, Novita, Rayhanah, Nunik, dan Pratita yang telah mempersiapkan agenda Upgrading di Curug Nangka pada hari ini. Kemudian tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti Upgrading FAA pada hari ini. Mudah-mudahan acara ini dapat meningkatkan kualitas, kuantitas, motivasi dan semangat kepada seluruh pengurus LDF FAMM AL-AN’AAM untuk memajukan dakwah khususnya di Lingkungan Fakultas Peternakan IPB. Allahu Akbar……

“PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Hibahkan 1 Milyar untuk bersama-sama Membangun dan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

 

Acara Ceremonial di Plaza Mandiri

Acara Ceremonial di Plaza Mandiri
Jakarta, 06–09 Januari 2012 – Seratus Empat Puluh mahasiswa dari 6 Universitas Negeri yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad) dan Universitas Sumatera Utara (USU), berkumpul di Bumi Perkemahan & Graha Wisata (BUPERTA) – Cibubur, Timur pada Jum’at, 6 Januari 2012. Mahasiswa-mahasiswa tersebut adalah penerima Beasiswa PT. Bank Mandiri Persero Tbk. Tahun Akademik 2011/2012 yang akan bersiap melaksanakan pelatihan Kepemimpinan dan peningkatan prestasi yang diberi nama “Mandiri Leadership Camp”. Selain itu, para peserta ini akan menghadiri serta diresmikan sebagai penerima Beasiswa PT Bank Mandiri dalam Acara Peresmian & Tanda Tangan MOU program kerjasama bantuan Beasiswa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dengan Yayasan Karya Salemba Empat dengan Hibah beasiswa sebesar 1M di Plaza Mandiri – Gatot Subroto pada Senin, 09 Januari 2011.

Acara Pembukaan Mandiri Leadirship Camp

Acara Pembukaan Mandiri Leadirship CampBUPERTA – Cibubur, 06-08 Januari 2012 : “Mandiri Leadership Camp”
“Mandiri Leadership Camp” merupakan program pelatihan yang dikelola oleh Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) yang bertujuan meningkatkan potensi, motivasi dan kepemimpinan kepada penerima beasiswa khususnya penerima beasiswa Bank Mandiri. Pada kesempatan ini, Kegiatan pelatihan ini dibuka dan diresmikan oleh Nila Mayta Dwi Rihandjani (Assistant Vice President Micro Business Group Bank Mandiri) dan Mirza Adityaswara (Ketua Dewan Pembina Yayasan KSE).

Talkshow PDP dengan Peserta Mandiri Camp

Talkshow PDP dengan Peserta Mandiri Camp

Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari tanggal 06 – 08 Januari 2012. Demi menunjang tujuan tersebut, KSE bekerjasama dengan PDP (People Develop People) untuk mengakselerasi karakteristik positif dari para mahasiswa agar mampu menemukan kelemahan diri sebagai sumber motivasi dan kekuatan dalam bertindak secara benar, juga memiliki kiat-kiat di dalam memaksimalkan potensi diri berkaitan dengan peningkatan performance dengan mengedepankan disiplin sebagai landasan dalam bertindak.

Outbound Bersama Tim Dari People Develop People

Outbound Bersama Tim Dari People Develop People

Tim PDP yang dipunggawai oleh Hari Subagya dan Cahyana Phutut Wijanarka, memberikan beberapa materi motivasi dan pengembangan softskill, diantaranya “Spirit of your life”, “Role model nature”, “Service mindset”, “Fresh spirit and up grade your spirit”, dll. Metode yang dipakai dalam pelatihan ini pun sangat beragam, mulai dari pemberian materi training, pemecahan masalah, diskusi, ataupun outbound.

Acara KSE Value

Acara KSE Value

Selain diberikan training dari PDP, para peserta juga dibekali dengan pengetahuan dunia kerja khususnya di bidang perbankan oleh Ferry Prima Adhyaksa (Vice President Human Capital Services Group PT. Bank Mandiri). Selain itu, para peserta juga dibekali nilai-nilai kepedulian terhadap dunia pendidikan di Indonesia, dengan menghadirkan para Pengurus Yayasan Karya Salemba Empat. Satriadi Indarmawan (Ketua Pengawas Yayasan KSE), Arief Wana (Wakil Ketua Yayasan KSE) dan Laksono Widodo (Dewan Pembina Yayasan KSE), berkesempatan untuk melakukan “sharing-networking-developing” dalam bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan visi dan misi Yayasan KSE.

Sharing - Networking - Developing

Sharing – Networking – Developing

Gaungan moto KSE [Sharing – Networking – Developing] dari peserta beasiswa Bank Mandiri ini semakin melekat setelah sampai pada puncak acara. Komitmen demi komitmen terngiang dari para peserta untuk melakukan perubahan dengan meningkatkan potensi akademi, lulus dengan hasil memuaskan hingga mencapai cita-cita yang didambakan mereka. Semoga semangat komitmen mereka dapat diraih dengan hasil yang maksimal. Kontribusi maksimal tentunya akan menghasilkan hasil yang maksimal pula tentunya…Keep Spirit untuk para penerima Beasiswa Bank Mandiri…

Plaza Mandiri – Gatot Subroto, 09 Januari 2012 : “Tatap Muka Mahasiswa & Penandatangan MOU Hibah Beasiswa PT Bank Mandiri Persero Tbk. Sebesar 1 Milyar kepada 140 Mahasiswa melalui Yayasan Karya Salemba Empat”

Penandatanganan MOU

Penandatanganan MOU

Setelah melakukan pelatihan “Mandri Leadership Camp”, 140 mahasiswa ini mendatangi Auditorium Plaza Mandiri pada 09 Januari 2012 dalam rangka mengikuti Tatap Muka Mahasiswa & Penandatangan MOU Hibah Beasiswa PT Bank Mandiri Persero Tbk. Sebesar 1 Milyar kepada 140 Mahasiswa melalui Yayasan Karya Salemba Empat.

Serah Terima Plakat

Serah Terima Plakat

Penyerahan hibah Beasiswa Mandiri Prestasi tersebut dilakukan oleh Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, Pahala N Mansury, kepada Ketua Yayasan Karya Salemba Empat Tatan A. Taufik serta disaksikan ketua Dewan Pembina Yayasan Karya Salemba Empat Mirza Adityaswara, Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman dan Direktur Compliance & Human Capital Ogi Prastomiyono. Dengan penyerahan hibah beasiswa ini, Bank Mandiri telah menyalurkan beasiswa melalui Yayasan Karya Salemba Empat senilai total Rp2 miliar untuk 224 mahasiswa dari Tahun Akademik 2008-2012 ini.

Sambutan Pahala N Mansury dari Bank Mandiri

Sambutan Pahala N Mansury dari Bank Mandiri

Pada Acara ini, Pahala N Mansury dalam sambutannya memaparkan pentingnya pendidikan sebagai aset kemajuam bangsa dan negara. menurut beliau : “Pendidikan merupakan unsur penting yang sangat menentukan masa depan sebuah bangsa. Semakin banyak manusia berkualitas yang dimiliki sebuah bangsa, niscaya semakin tinggi peradaban dan kesejahteraan bangsa tersebut. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk terus menyalurkan beasiswa ini agar Indonesia dapat semakin sejahtera”.

Sambutan Ketua KSE Tatan A. Taufik

Sambutan Ketua KSE Tatan A. Taufik

Dalam kesempatan ini, Ketua Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) Tatan A. Taufik memaparkan visi dan misi KSE yang sejalan dengan misi program CSR Bank Mandiri yakni “Bersama-sama mencerdaskan kehidupan Bangsa”. Selain itu, beliau mengungkapkan bahwa target KSE tahun ini yakni memberikan beasiswa kepada 2.000 mahasiswa dengan menambah Universitas Dipenogoro (UNDIP). Dengan penambahan ini, total Perguruan Tinggi yang dibantu KSE yakni berjumlah 12 universitas.

“Selain pemberian beasiswa, Kami berterimakasih kepada Bank Mandiri telah berdesikasi dalam dukungan program pengembangan softskill kepada mahasiswa” Ungkap Tatan A. Taufik dalam
sambutannya.

Pengembangan Program Beasiswa Bank Mandiri

Serah Terima Dana Hibah 1M Secara Simbolis

Serah Terima Dana Hibah 1M Secara Simbolis

Selain program Beasiswa Mandiri untuk kebutuhan financial penerima beasiswa, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. bekerjasama dengan Yayasan Karya Salemba Empat (KSE) mengembangkan sayapnya untuk meningkatkan program-program Beasiswa lainnya dimulai dari Tahun Akademik 2010/2011 sampai sekarang, diantaranya :
a. Program Beasiswa Bank Mandiri Pertukaran Pelajar
b. Program Beasiswa Bank Mandri Riset dan Penelitian
c. Program Beasiswa Bank Mandiri Peduli Sosial
• Rumah Sahabat Mandiri bekerjasama dengan Paguyuban Karya Salemba Empat IPB
• Rumah Pintar Mandiri bekerjasama dengan Paguyuban Karya Salemba Empat UI
d. Program Beasiswa Bank Mandiri – Coaching Proffesional Development

Dari program-program beasiswa tersebut, pada acara “Tatap Muka Mahasiswa & Penandatangan MOU Hibah Beasiswa PT Bank Mandiri Persero Tbk. Sebesar 1 Milyar kepada 140 Mahasiswa melalui Yayasan Karya Salemba Empat” kemarin, para perwakilan mahasiswa dari masing2 program, berkesempatan mempresentasikan hasil dan review perjalanan program beasiswa Bank Mandiri tersebut. Diantaranya :

Presentasi dari Raden Gilang Program Pertukaran Pelajar

Presentasi dari Raden Gilang Program Pertukaran Pelajar

a. Raden Gilang Permana Kusuma – Mahasiswa dari Universitas Padjadajran (UNPAD) Penerima program Beasiswa Bank Mandiri – Pertukaran pelajar, mempresentasikan beberapa program pertukaran pelajar yang mengantarkannya dapat belajar ke 11 negara dibelahan dunia. Berkat donasi program beasiswa dari Bank Mandiri ini, beberapa mahasiswa lainnya dapat diikut sertakan dalam beberapa program pertukaran pelajar, seperti program Ajou University, dll.

b. Hermawan Febriansyah – Mahasiswa dari Universitas Gajah Mada (UGM) ini bekerjasama dengan Guntur Rudy Hartono (Institut Pertanian Bogor – IPB) mempelopori munculnya teknologi energi biomassa yang terbarukan serta merakyat. Melalui program Riset dan Penelitian Bank Mandiri ini. Hermawan yang akrab disapa Kimi ini, berhasil mengembangkan teknologi energi Biomasa ini dengan menciptakan kompor roket dengan efesiensi dari bahan bakar selain kayu bakar, seperti sekam padi, Cangkang sawit, dll.

c. Denis Mudlofar - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam Paguyuban KSE IPB ini merupakan Ketua Rumah Sahabat (RUSA-Mandiri). Rumah Sahabat “Mandiri Peduli Anak Bangsa ini” merupakan kategori program beasiswa Bank Mandiri – Peduli Sosial. Rumah Sahabat atau yang biasa disingkat RUSA merupakan salah satu program Paguyuban KSE IPB yang didanai oleh PT Mandiri (Persero) Tbk. yang menyediakan sarana pendidikan bagi anak-anak TK, SD, SMP dan SMA/SMK, serta anak-anak penjual asongan di sekitar kampus IPB. Menyediakan sarana pendidikan bagi anak-anak TK, SD, SMP dan SMA/SMK yang kurang mampu.

Presentasi Raden Icu Kepala Program Rumah Pintar (RUPIN) Mandiri

Presentasi Raden Icu Kepala Program Rumah Pintar (RUPIN) Mandiri

d. Raden Icu Surtini Marwati – Mahasiswa Universitas Indonesia yang merupakan Ketua Student Sosial Responsibility Paguyuban KSE UI sekaligus mengepalai Program Rumah Pintar (RUPIN) Mandiri. Rumah Pintar Mandiri ini merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas belajar serta meningkatkan prestasi akademik siswa/i SMA/sederajat. Kegiatan RUPIN ini terbuka bagi siswa/siswi SMA/sederajat yang berdomisili di daerah Depok dan sekitarnya, khususnya bagi siswa/siswi kelas XII yang memiliki keterbatasan finansial namun berprestasi. RUPIN Mandiri ini telah berhasil mengantarkan 13 siswa peserta bimbel dari 20 siswa kurang mampu untuk masuk perguruan tinggi melalui jalur SPMB dan Beasiswa/PMDK.

Melalui berbagai dedikasi dan kontribusi yang sangat luar biasa dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. selama ini, para Mahasiswa penerima beasiswa dan segenap jajaran Pengurus dan Staff Yayasan Beasiswa Karya Salemba Empat berterimakasih sebesar-besarnya atas bantuan terhadap program beasiswa ini. Semoga cita-cita bersama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa akan senantiasa terus berjalan serta akan terus menebar benih kebaikan demi kemajuan bangsa….

Naskah : Helmi (Mie)
Foto : Helmi (Mie)
Web : Azhar

Hikmah

Kisah Ka’ab bin Malik Dalam Perang Tabuk

Pada perang Tabuk, ada beberapa sahabat yang tidak berangkat berperang. Salah satu di antara mereka. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik. Marilah kita dengarkan cerita Ka’ab yang menunjukkan kejujuran imannya, usai turunnya pengampunan Allah atas dosanya.

“Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.
Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini. Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, “Aku bisa melakukannya kalau aku mau!”
Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah, maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan keterkucilan diri sebab aku tidak melihat orang kecuali orang-orang yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijinAllah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasakan bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?”
Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya!” Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja!”Rasulullahsaw. hanya terdiam saja.

Beberapa waktu setelah berlalu, aku mendengar Rasulllah saw. kembali dari kancah jihad Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw., bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pandapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw., segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka, aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan tidak sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan, kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. /Demikian pula usai dari Tabuk, selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan lahir mereka; dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah. Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada beliau. Beliau membalas dengan senyuman pula, namun jelas terlihat bahwa senyuman beliau adalah senyuman yang memendam rasa marah. Beliau kemudian berkata, “Kemarilah!”

Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, “Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?”
Aku menjawab, “Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalau duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Aku sadar kalau aku berbicara bohong kepadamu dan engkau pun menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan membenciku. Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kealpaanku. Ya Rasululah saw., demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku aku tidak pernah stabil disbanding tatkala aku mengikutimu itu!”
Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!”

Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata kepada, “Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan dosa sebelum ini. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!”
Mereka terus saja menyalahkan tindakanku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.
Aku bertanya kapada mereka, “Apakah ada orang yang senasib denganku?”
Mereka menjawab, “Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!”

Aku bertanya lagi, “Siapakah mereka itu?”

Mereka menjawab, “Murarah bin Rabi’ah Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi.”
Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasululah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam perang tersebut.
Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya, tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat jamaah dan kaluar masuk pasar meski tidak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku. Aku juga datang ke majilis Rasullah saw. sesudah beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, sembari hati kecilku bertanya-tanya memperhatikan bibir beliau, “Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?”
Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat pandangan beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadanya, ia palingkan mukanya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali. Pada suatu hari, aku mengetuk pintu paga Abu Qaradah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku.
Aku menegurya, “Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Ia diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.
Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinag. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?”

Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Hatiku berkata ketika membaca surat itu, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.
Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampong halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!”

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?”

Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!”

Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, “Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!”
Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?”

Rasulullah saw. menjawab, “Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!”
Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!”

Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, “Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya istri Hilal bin Umayah!”
Aku menjawab tegas, “Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?”
Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang dudung berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.
Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.
Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thal’ah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”
“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.
“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”
Ka’ab lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

)|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|( )|(

Gimana setelah membaca kisah di atas?

Sekarang kita hubungkan dengan kehidupan saat ini. Kalau Ka’ab bin Malik absen dari perang, kalau kita saat ini kita hubungkan dengan amanah-amanah kita. Bagaimana sikap kita ketika mendapat seruan untuk dakwah? Bagaimana sikap kita ketika mendapatkan amanah? Apakah kita memiliki ruhul istijabah dan bersegera untuk melaksanakannya? Apakah justru sebaliknya kita merasa enggan, malas dan akhirnya tidak berangkat seperti kisahnya Ka’ab bin Malik itu?
Kondisi yang dialami Ka’ab bin Malik saat itu adalah contoh kondisi ketika mengalami futur, ketika kondisi keimanannya lemah. Ka’ab bukan termasuk golongan orang munafik yang mengudzurkan dirinya untuk tidak ikut perang dengan berbagai alasan. Tetapi beliau jujur kepada Rasulullah menyadari kesalahannya dan bertaubat. Beliau segera bangkit dari kondisi futurnya dan ikhlas menerima hukuman apapun. Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita akan mengudzurkan diri kita dengan berbagai alasan ketika kita diberi amanah, padahal alasan sebenarnya karena kemalasan kita. Apakah kita akan menyalahgunakan kepandaian kita untuk membuat-buat alasan. Apakah kita sering gak datang syuro tanpa alasan yang syar’i karena kita males atau mendahulukan yang lain yang tidak penting. Atau mungkin datang tapi sengaja telat karena menunda-nunda keberangkatannya tanpa ada udzur apapun. Padahal dalam sebuah ayat Al Qur’an, kita disuruh untuk berangkat jihad dalam keadaan merasa berat maupun ringan.
Coba kita simak surat At-Taubah:41-49

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah : “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
Semoga Allah mema`afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.
Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya.
Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (QS.At-Taubah:41-49)

Dan bagaimana pula sikap kita jika kita ditegur terhadap kekhilafan kita? Apakah kita akan ikhlas menerimanya dan berusaha memperbaikinya serta bersikap tajarud seperti halnya Ka’ab ataukah kita justru mutung, merasa kecewa dan akhirnya keluar dari jalan ini.

Tetapi jika ada saudara kita yang melakukan kekhilafan atau futur seperti Ka’ab dan dua orang sahabatnya itu jangan kita memperlakukan saudara kita seperti mereka, mengasingkan sampai 50 hari gitu, ntar dan semakin terperosok dalam kefuturan dan akhirnya malah berguguran di jalan dakwah.  (Runtuhnya Semangat Berjuang).
Wallahu a’alam bishowab

Teladani Abdurrahman bin ‘Auf

Tahukah kamu siapa Abdurrhman bin ’Auf? Beliau adalah termasuk salah satu dari 10 sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing. Ia telah memasukinya di saat permulaan da’wah, yakni sebelum Rasulullah sw. Memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para sahabatnya orang-orang mu’min.Dia salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam. Abu Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin ’Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tak ada keragu-raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama abu Bakar Shiddiq menemui Rasulullah saw. Menyataka bai’at dan memikul bendera Islam.Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuhpuluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang Mu’min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi saw. Memasukkannya dalam sepuluh sahabat yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.Dan di balik itu semua, beliau ternyata juga seorang saudagar, saudagar yag berhasil. Dialah seorang mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh karena keuntungan agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Perniagaan bagi Abdurrahman bin ’Auf bukan berarti rakus dan loba, bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan riyak. Justru perniagaannya dijadikan sebagai suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya.Abdurrahman bin ’Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia dimana juga adanya. Watak dinamisnya in terlihat sangat menonjol, ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah. Telah menjadi kebiasaan Rasul pada waktu itu untuk mempersaudarakan dua orang sahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah.Ketika itu Rasul mempersaudarakan antara Abdurrahman bin ’Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Mari kita dengarka sahabat Anas bin Malik meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi:”… dan berkatalah kepada Abdurrahman: ”Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya..!”Jawab Abdurrahman bin ’Auf: ”Moga-moga Allah memberkati anda, istri dan harta anda. Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga..!” Maka Abdurrahman bin ’Auf pergi ke pasar, dan berjualbelilah disana, ia pun memperoleh keuntungan.Lihatlah, Abdurrahman bin ’Auf bukan seorang yang rakus, coba kalo sekarang ada ditawari seperti itu, mungkin jarang yang nolak  Beliau juga seorang yang dinamis, mudah menyesuaikan dengan keadaan, beliau juga rela meninggalkan harta bendanya yang ada di Mekkah demi hijrah ke Madinah.Kehidupan Abdurrahman bin ’Auf di Madinah terus meningkat. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridha Allah semata, sebagai bekal di alam baka kelak.Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram dan bahkan yang syubhat. Selain itu, yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, dan digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam.Pada suatu hari ia mendengar Rasulullah bersabda, ”Wahai Ibnu ’Auf! Anda termasuk golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah akan mempermudah langkah anda!”Semenjak ia mendengar nasehat Rasulullah ini ia menyediakan pinjaman bagi Allah pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda.Diserahkannya pada suatu hari 500 ekor kuda untuk perlengkapan bata tentara Islam dan di hari yang lain 1500 kendaraan . Menjelang wafatnya ia wasiatkan 50 ribu dinar untuk jalan Allah dan diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup masing-masing 400 dinar. Abdurrahman bin ’Auf tidak sekedar berjihad dengan hartanya saja kemudian cukup berpangku tangan, tetapi beliau adalah pejuang Islam yang berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Perniagaan yang dilakukannya tidak menjadikannya lalai dari jihad di jalannya. Tidak menjadikannya lalai untuk menghadiri majelis-majelis Rasulullah. Tidak pula menjadikannya ketinggalan dalam setiap perang. Bahkan dalam perang Uhud beliau mendapat 20 bekas luka dan giginya pun rontok. Perniagaan/pekerjaan yang dilakukannya hanya dijadikan sebagai alat untuk mencapai keridhaan Allah. Karena ada perniagaan yang jauh lebih menguntungkan yang telah dijanjikan oleh Allah.”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana ‘Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut- pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong- penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (As-Saff:10-14) Begitulah seharusnya kita sebagai kader dakwah jangan sampai harta dan pekerjaan kita melalaikan kita dari mengingat Allah, menyibukkan kita hingga meninggalkan kewajiban dakwah. Padahal dakwah bisa dilakukan dimana saja, termasuk di tempat pekerjaan kita. Terbentang banyak kesempatan dan peluang untuk berdakwah, salah satunya adalah dakwah profesi. Harta dan pekerjaan harusnya hanya sebagai alat dakwah dan jihad, dan kitalah yang mengendalikannya, bukan sebaliknya kita yang diperalat dan dikendalikan oleh harta dan pekerjaan kita. Kesibukan kita dalam bekerja bukan menjadi alasan untuk meninggalkan majelis-majelis iman (halaqah) yang harusnya menjadi charger ruhiyah kita. Bukan pula menjadi alasan untuk tidak membina karena setiap ikhwah adalah murobi, seorang da’i harus siap menjadi murobi. Bukan pula menjadi alasan untuk tidak terlibat dalam aktifitas dakwah karena itu adalah sebaik-baik pekerjaan. Ada seorang ikhwah yang bekerja sebagai programmer mengatakan ”Pekerjaan utamaku adalah da’i, pekerjaan sambilanku adalah programmer” :) Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (referensi: buku Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah)

Kenapa Harus Tarbiyah?

Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di bumi khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kajian keislaman yang diadakan hamper di seluruh tempat terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang ‘makan bangku’ pendidikan.

Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya ‘westlife’ ini kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. Apalagi invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam lewat berbagai cara telah berhasil dan sangat mewarnai kehidupan bangsa kita yang mayoritas adalah muslim. Karenanya sebagai khairu ummah kita harus melawannya dengan cara yang sama. Seluruh potensi yang kita miliki harus dioptimalkan. Dan pondasi awal untuk bisa mengoptimalkan potensi Al-Insaan yang ada dalam diri kita adalah Tarbiyah.
Pentingnya Tarbiyah

Tarbiyah sangat penting sebagai imunitas dalam menghadapi serangan musuh, selain sebagai sarana penguat aqidah. Karena Tarbiyah adalah sebuah sarana untuk membentuk pribadi dambaan ummat hingga mampu membentuk komunitas Islami menuju terwujudnya kembali sebuah peradaban ideal.

Tarbiyah yang merupakan sebuah kemestian, keharusan bagi pada da’I Islam memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya ‘begitu indah’. Rabbaniyah, sebagaimana karakter Islam itu sendiri, Tarbiyah pun bersumber dan bertujuan hanya kepada Allah. Lalu tadaruj atau bertahap. Dakwah adalah sebuah proses dan tahapan, sehingga Tarbiyah pun dilakukan dan berjalan secara bertahap, step by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan meski juga tidak ringan. Selain itu dalam Tarbiyah juga berlaku tawazun alias seimbang . Artinya menempatkan segala sesuatu pada haknya. Dan juga syaamil atau universal, menyentuh seluruh lini dan sisi kehidupan. Karena Tarbiyah sebagai pondasi dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamiin –‘memanusiakan’ manusia. Terakhir dalam tarbiyah tidak mengenal kata cukup atau berhenti, ia berkesinambungan (istimror) sepanjang hidup. Atau yang disebut life education alias Tarbiyah madal hayah
Proses Tarbiyah

Tarbiyah dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga pendekatan; idealis, taktis, dan operacional.

Pendekatan idealis adalah jalan bagi pada da’i Islam, tidak ada jalan lain karena jalannya adalah jalan tarbawi yang memiliki tiga karakter mendasar.

Pertama, sulit tapi hasilnya berkualitas.Proses tarbiyah ibarat menanam pohon jati, senantiasa harus dijaga dan diperlihara sehingga akarnya tetap kuat dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencangn. Karenanya jalan Tarbawi merupakan proses pembentukan pribadi dambaan. Kedua, proses yang panjang tapi terjaga kemurniannya. Dakwah adalah jalan panjang yang tidak hanya dilalui oleh satu generasi. Akan tetapi, meski terkadang untuk mencapai target dan sasaran tertentu harus melalui sekian banyak generasi, Asholah-nya tetap terjaga dan hammasah tetap terpelihara. Tarbiyah membentuk pribadi telah yang teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah serta pribadi yang tak kekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Ketiga, lambat tapi hasilnya terjamin. Dakwah ibarat kompetisi dan bukan perlombaan, untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dengan ’staying power untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas terjamin. Kompetisi memang terlihat lama dan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kesuksesan di akhir kompetisi. Watak perjalanan dakwah yang lamabat harus dilihat dari proses dan tahapannya, bukan dari perangai para pelakunya (okum da’i), karena perangai yang lambar adalah sebuah kelalaian. Dan salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah lahirnya kepribadian yang integral, tidak mendua, dan tidak terbelah, yang akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.

Setelah ketiga faktor idealis di atas terelisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetaka langkah-langkah taktis, untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader serta menyelaraskan dukungan massa dengan potensi Tarbiyah.

Terakhir adalah langkah strategis, dan dalam hal ini yang paling penting dalam sebuah perjalanan dakwah adalah fokus untuk menyusun barisan kader serta untuk menghindari terjadinya ”lost generation”, perlu dirumuskan strategi untuk membina kader-kader baru.

Penutup

Saat terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa di masa Abu Bakar RA., di sepertiga jazirah Arab yang selamat kader dakwah di wilayah itu dijaga dan dipelihara. Lalu pembinaan terhadap kader-kader batu yang kebanyakan adalah tawanan perang Riddah terus dijalankan hingga masa Umar bin Khattab RA. Pada saat perang Qadisiyah, kader-kader baru yang dibina mayoritas berada di garis terdepan bahkan tak jarang di antaranya kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan Islam. Dan itulah hasil Tarbiyah (QS. Ali Imran:146)

sumber: majalah Al Izzah September 2002

Semangat Menyambut Panggilan Dawah

Oleh : Ust. Abdul Muiz, MA

Mukadimah
Bersemangat dalam menyambut panggilan da’wah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat, Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu “Hai orang¬-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasai antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan “. (AI-Anfal :24 ).

Kader da’wah apabila mendengar panggilan da’wah ia sambut dengan kata-kata “sam’an wa tha’atan” (kami dengar dan kami taati) “labaik wa sa’daik” (kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati). Para sahabat Rasul di saat menjelang perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan. Dari kalangan Muhajirin Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyambut baik untuk terus maju ke medan pertempuran.
sedangkan Miqdad bin `Amru mengatakan : “Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa,yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi yang kami katakan kepadamu adalah : “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah yarg mengutusmu membawa kebenaran, seandainya kamu mengajak kami ke Barkul Ghimad (suatu tempat di Yaman, red ) pasti kami tetap mengikutimu sampai di sana. Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya :”Kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi. Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu. (Rakhikul Makhtum 285-286 ). Hasan AI-Banna berkata da’wah pada tahap pembinaan (takwin) shufi disisi ruhiyah dan askari (kedisiplinan) dari sisi amaliyah (operasional), slogannya adalah amrun wa thoatun (perintah dan laksanakan ) tanpa ada rasa bimbang, ragu, komentar, dan rasa berat’. (Risalah Pergerakan 2).

Empat Aspek Ruhul Istijabah

1. Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran /dengan sadar).
Kader da’wah ketika mendapat tugas dari Murobbi, Pembina, maupun Qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa.
Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari Murobbi, Pembina atau Qiyadah dalam rangka taat kepada Allah. karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin : “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59). Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan.
Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapatdan dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar. Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali “wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik “. Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit). Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemer-intahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah. Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”. Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang¬-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb¬mu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran “.
2. Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).
Para aktivis dan kader da’wah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyamtbutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira.
Bila datang panggilan da’wah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhnya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah :41).
Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan,”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah “; kamu merasa berat dan ingin di tempatmu Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (At¬Taubah:38-39).
Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata :”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan “. (At-Taubah: 92). Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.

3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta).
Da’wah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek da’wah pendanaan ditanggung oleh para da’i sendir-i.
Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111). Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang¬-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan imu dari azab yang pedih ?Yaitu, kamu beriman pada Allah dan RasuINya dan berjihad di jalan Alllah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).
Kader da’wah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam da’wah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari da’wah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan da’wah. Pada perang tabuk kaum uslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah. Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian men-shadaqah-kan semua itu. Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”. Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang. Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluar-ganya kecuali Allah dan Rasulnya. Kemudian shahabat-shahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. AI-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang scdika sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan. Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq. Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya “. (At -Taubah :79)
4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)
Aktivis da’wah adalah yang orang aktif dalam kegiatan da’wah, selalu hadir dalam kegiatan da’wah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam. Perlu diingat, tugas da’wah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia. Tugas antara lain, pertama: Kewajiban dalam Tarbiyah, tujuannya, agar kualitas dan dan mutu kader semakin baik. Kedua: Kewajiban dalam Da’wah, tujuannya, agar penyebaran da’wah semakin luas. Ketiga: Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan, agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.
Bila kita pelajari siroh Nabawiyah dan siroh As-Salaf As-Shalih, kita bisa lihat, pola kehidupan mereka. Mereka lebih banyak bekerja untuk umat dibanding untuk diri dan keluarga mereka karena kesibukan yang begitu padat hampir tidak ada waktu untuk istirahat, bahkan tidak menyempatkan diri untu istir-ahat. Para sahabat Rasul tidak pernah berhenti berjihad di jalan Allah, sebagian ahli sejarah mencatat sebanyak seratus kali peperangan selama sepuluh tahun Rasul di Madinah, baik yang dipimpin langsung oleh Rasul dan yang dipimpin oleh sahabatnya. Baik itu pertempuran besar maupun yangkecil, baik yang jadi maupun tidak jadi perang. Sehingga jika diambil rata, peperangan terjadi sebulan sekali, artinya mobilitas jihad sangat tinggi. Begitu pula di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Peperangan dilakukan selama dua tahun tiga bulan sepuluh hari, belum lagi peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang jumlahnya sebanyak dua puluh kali peperangan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan.
Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da’wah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas da’wah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar¬-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali¬-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).

Penutup
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah pikiran kita terkonsentrasikan dan terfokuskan untuk memikirkan umat, memikirkan bagaimana cara yang efektif dalam melakukan da’wah untuk mereka. Sudahkah kita menyumbangkan pendapat, gagasan dan ide terbaik untuk kemajuan da’wah. Sudahkah kita mempersembahkan kreatifitas untuk pengembangan da’wah yang lahir dari hasil kajian, telaah, renungan dan evaluasi kerja da’wah saat ini?!.
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita merasa gembira senang dan bahagia mana kala kita mendengar perintah, menerima tugas dan mendapatkan amanah da’wah.Apakah kita merasa bersedih, menangis dan merasa rugi jika kita tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik, tidak dapat ikut dalam kegiatan da’wah di saat uzur. Menyesalkah kita jika tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik ?!
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita mengeluarkan sebagian dari rizki yang kita dapatkan untuk kepentingan da’wah. Sudahkah kita berniat dan ber-Azam untuk menginfaqkan harta kita di jalan Allah? Sudahkah kita miliki tabungan da’wah?
Ikhwah dan Akhwat fillah, betulkah kita sebagai aktivis da’wah, apa buktinya? Apa kontribusi riil kita untuk da’wah? Apa prestasi da’wah kita selama ini? Sudah berapa orang yang telah kita rekrut melaui da’wah fardiyah atau da’wah jamahiriyah? sudah berapa orang kader yang kita tarbiyah? Sudahkah kita menjadikan waktu, kerja, profesi dan seluruh aktivitas kita sebagai kegiatan da’wah ?!
Ikhwah dan Akhwat fillah, keimanan kita baru diakui oleh Allah apabila ada ruhul istijabah pada diri kita, dan baru akan sempurna iman kita jika aspek-aspek istijabah itu telah terpenuhi. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah, akan tetapi jika ¬mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (AI-Anfal : 72). ”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta ¬berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi ¬pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang bena-benar ¬beriman. Mereka memperoleh ampunan, rizki (ni’mat ) yang mulia “, (al-Anfal : 74)

Sumber: Majalah Tarbiyah Edisi 4 Th. I / Sya’ban-Ramadhan 1424 H/Oktober-November 2003 M

BANGSA SAPI PEDAGING

BEBERAPA JENIS SAPI POTONG

  • Santa Gertrudis

Merupakan persilangan antara induk Shorthorn dan pejanta Brahman. Berkembang baik di seputar wilayah Texas (Amerika)

    • Beefmaster

      Persilangan antara Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan perbandingan genetis = 50 % : 25 % : 25 %. Sama seperti Santa Gertrudis, sapi ini berkembang baik di daratan Texas (Amerika).

        • Droughtmaster

          Memiliki perbandingan genetis = 3/7 Brahman dan 4/7 Shorthorn. Performancenya sama dengan Santa Gertrudis, hanya saja genetic Brahman lebih dominan.

            • American Brahman

              Termasuk golongan sapi zebu keturunan Kankrey, Ongole, Gir, Krishna, Hariana dan Bhagari. Masuk Amerika tahun 1854 dan dkembangkan di wilayah Lousiana. Tipe potong yang baik dengan pertumbuhan cepat dengan pakan sederhana.

                • Peranakan Ongole

                  Di Indonesia dikenal dengan sebutan Sapi Bengggala. Berasal dari daratan India. Termasuk sapi potong dan kerja.

                    • Aberdeen Angus

                      Berasal dari Scotlandia Utara, masuk Indonesia sekitar tahun 1973. Biasanya berbulu hitam, agak panjang, keriting dan halus. Tidak bertanduk dengan tubuh panjang dan kompak. Tubuh rata, lebar, dalam dan pendek. Disilangkan dengan sapi Brahman akan menghasilkan Brahman Angus (Brangus)

                        • Hereford

                          Berasal dari Inggris. Warna bulu merah, kecuali pada muka, dada, badan, perut bawah, keempat kaki sebatas lutut, bahu dan ekor berwarna putih. Sehingga dikenal pula sebagai white faced cattle. Postur tubuh rendah tetapi memiliki urat daging yang padat dan tegap.

                          Bobot badan jantan dewasa sekitar 850 kg dan betina dewasa 650 kg. Lebih sesuai bila digemukkan dengan system pastur atau padang gembalaan karena cara merumput yang baik. Tidak cocok dikembangkan di Indonesia .

                          • Simmental

                          Berasal dari Switzerland. Ukuran tubuh besar, perototan bagus dengan penimbunan lemak bawah kulit yang rendah. Warna bulu umumnya krem agak coklat ata sedikit merah, kecuali pada muka, keempat kaki sebatas lutut dan ujung ekor berwarna putih.

                            • Limousine

                              Berasal dari Prancis, merupakan tipe potong dengan warna bulu cokelat dengan warna agak terang pada sekeliling mata dan kali mulai lutut kebawah. Tubuh besar dan panjang, pertumbuhan bagus.

                                • Brahman Cross

                                  Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dengan sapi jenis lain. Dikembangkan di Amerika dan Australia. Diimpor dari Australia. Memiliki pertumbuhan baik, konformasi karkas yang ideal, tahan iklim tropis dan lalat/kutu. Umumnya sapi ini memiliki warna gelap keabu-abuan atau kemerahan atau hitam. Pada jantan warnanya lebih gelap daripada betina.

                                  PENILAIAN BIBIT

                                  Pemilihan bibit merupakan langkah awal usaha pengembangan ternak sapi potong. Sapi bakalan yang baik, akan memberi hasil usaha yang menguntungkan, melalui pertumbuhan bobot badan perhari yang cepat.

                                  Faktor-faktor yang menentukan pemilihan bibit didasarkan pada pengalaman dan kecakapan yang baik dengan ditunjang tiga kriteria berikut.

                                  Bangsa dan Sifat Genetis

                                  Setiap peternak tentunya memiliki suatu acuan untuk melakukan pemilihan bibit. Apakan dia lebih memilih menggemukkan sapi Lokal atau Impor. Hal ini didasarkan pada kemampuan genetis sapi yang berbeda satu sama lain, baik mengenai produktivitas maupun daya adaptasi pada kondisi lingkungan (antara lain iklim dan pakan). Pangkal kemampuan adaptasi terhadap lingkungan didasari pada sifat genetis yang diturunkan oleh tetua. Sehingga sapi harus benatr-benar cermat dipilih sesuai dengan tujuan pemeliharaan dan kondisi lingkungan setempat.

                                  Bentuk Luar

                                  Selain faktor genetis, bentuk luar (performance) sapi juga harus diperhatikan. Hal-hal tersebut antara lain :

                                  • Ukuran panjang badan dan dalam
                                  • Bentuk tubuh segiempat
                                  • Paha sampai pergelangan kaki berisi penuh
                                  • Dada lebar dan dalam serta menonjol
                                  • Kaki besar, pendek dan kokoh

                                  Kesehatan

                                  Setelah faktor genetis dan performance yang mantap, ternak sapi yang akan digemukkan harus menunjukkan kondisi sehat. Sehingga memiliki kemampuan produksi yang tinggi.

                                  CIRI-CIRI SAPI BAKALAN

                                  • Bentuk tubuh persegi panjang atau bulat silinder. Tubuh bagian depan, tengah dan belakang tumbuh sama kuat (simetris). Garis tubuh bawah dan atas sejajar.
                                  • Kulit tebal.
                                  • Daging berotot kuat dan padat sehingga terlihat bulat berisi.
                                  • Cepat dewasa
                                  • Makanan sebagian besar diubah menjadi daging dan lemak
                                  • Syarat pakan dan perawatan harus intensif.

                                  Sumber: Ekabees, ternak-sapi@yahoogroups.com

                                  MENGAPA SAYA MEMILIH IPTP ?

                                  Pada saat kelas 3 SMA saya mempunyai  keinginan untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri. Kemudian saya mengikuti program  USMI  yang diadakan oleh Institut Pertanian Bogor. Adapun jurusan yang  saya  pilih  yaitu pilihan pertama Teknologi Industri Pertanian , Fakultas Teknologi Pertanian. Adapun pilihan kedua yaitu Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan. Namun, pada saat pengumuman kelulusan USMI, saya dinyatakan  tidak  lulus. Kemudian saya merasa terpacu untuk mengikuti ujian  SNMPTN, ujian saringan masuk Akademi Kimia Analisis (AKA) dan ujian masuk Sekolah Tinggi Akutansi  Negara. Pada saat sebelum mengikuti ujian SNMPTN, saya mengajukan Beasiswa Mengikuti Ujian (BMU) SNMPTN yang diselenggarakan oleh DIKTI.  Saya mendaftarkan diri SNMPTN yang diselenggarakan oleh DIKTI melalui panitia lokal IPB dan  mengikuti ujian SNMPTN  di  MAN 2 Bogor. Saya memilih jurusan  Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Adapun pilihan kedua yaitu Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan IPB.  Alasan saya memilih departemen  ini  karena pada masa kecil saya suka beternak antara lain burung dara dan  ayam . Selain itu, saya mempunyai cita-cita menjadi pengusaha peternakan setelah lulus nanti  antara lain usaha peternakan  sapi perah, sapi potong, dan  kambing  perah.

                                  Saya ingin mendirikan usaha peternakan sapi perah, sapi potong dan kambing perah untuk memajukan daerah saya yaitu di Sibanggor Jae, Kabupaten Tapanuli Selatan, Medan. Pada saat ini disana  jarang ditemukan peternakan sapi potong dan kambing perah sehingga warga sekitar mudah memperoleh hasil ternak berupa daging, susu, serta hasil ternak lainnya. Adapun hasil samping ternak yang dapat dimanfaatkan antara lain pupuk dan  biogas.

                                  Beberapa hari kemudian saya mengikuti ujian saringan masuk Akademi Kimia Analisis (AKA).  Beberapa bulan kemudian  dilaksanakan pengumuman kelulusan  AKA. Pada saat itu saya dinyatakan lulus dan diterima di AKA.  Keesokan harinya dilaksanakan pengumuman kelulusan ujian  SNMPTN  melalui surat kabar dan  website IPB.  Alhamdulillah saya diterima di departemen IPTP, Fapet IPB. Pada saat  itu saya sempat berpikir  apakah saya akan memilih  IPTP  atau  AKA ?. Kemudian saya memutuskan untuk memilih IPTP  karena sesuai dengan minat saya dan  Alhamdulillah saya memperoleh beasiswa BMU dari  DIKTI.   Kemudian  saya sempat mengikuti ujian Sekolah  Tinggi  Akutansi  Negara (STAN).Alhasil pada saat pengumuman saya tidak diterima di  STAN.

                                  Saya bersyukur telah diberikan kemudahan oleh Allah SWT  sehingga  saya bisa menikmati kuliah di IPB khususnya di departemen IPTP Fakultas Peternakan.

                                  Pada awalnya saya merasa kurang percaya diri. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu saya mulai menyukai departemen yang saya pilih dengan pengajar yang profesional, teman yang ramah dan baik, dan mata kuliah yang diberikan sangat mendukung minat saya untuk membuka usaha peternakan.  Di departemen IPTP saya mendapatkan pengetahuan mengenai dunia  peternakan mulai dari pakan ternak, produksi, manajemen, peluang usaha peternakan dan lainnya…

                                  Mudah-mudah saya bisa berkontribusi kepada bangsa dan negara Indonesia dengan memenuhi kebutuhan Protein Hewani warga Indonesia sehingga dapat MENCERDASKAN BANGSA dan menjadikan INDONESIA TERSENYUM……